Al Baqarah Ayat 26 dan 44

By | 1 November 2018

Asababun Nuzul Surah Al Baqarah Ayat 26 dan 44

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَسۡتَحۡـىٖۤ اَنۡ يَّضۡرِبَ مَثَلًا مَّا ‌بَعُوۡضَةً فَمَا فَوۡقَهَا ‌ؕ فَاَمَّا ‌الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا فَيَعۡلَمُوۡنَ اَنَّهُ الۡحَـقُّ مِنۡ رَّبِّهِمۡ‌ۚ وَاَمَّا الَّذِيۡنَ ڪَفَرُوۡا فَيَقُوۡلُوۡنَ مَاذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهٖ ڪَثِيۡرًا وَّيَهۡدِىۡ بِهٖ كَثِيۡرًا ‌ؕ وَمَا يُضِلُّ بِهٖۤ اِلَّا الۡفٰسِقِيۡنَۙ ‏﴿۲۶

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan : “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak yang diberi-Nya petunjuk, tetapi yang disesatkan Allah itu hanyalah orang-orang yang fasiq. (S. 2 : 26)

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Allah membuat dua contoh perumpamaan kaum munafiqin dalam firman-Nya (S. 2 : 17 dan 19), berkatalah kaum munafiqin : “Mungkinkah Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Luhur membuat contoh seperti ini?”. Maka Allah turunkan ayat tersebut diatas (S. 2 : 26).

Ayat ini menegaskan bahwa dengan perumpamaan-perumpamaan yang Allah kemukakan, orang-orang beriman akan menjadi lebih tebal imannya dan hanya orang fasiq yang akan lebih sesat dari petunjuk Allah.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dengan berbagai sanad yang bersumber dari as-Suddi.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat 26 tersebut diatas (S. 2 : 26) diturunkan sehubungan dengan surat al-Haj ayat 73 (S. 22 : 73) dan surat an-Ankabut ayat 41 (S. 29 : 41), dengan reaksi kaum munafiqin yang berkata : “Bagaimana pandanganmu tentang Allah yang menerangkan lalat dan laba-laba didalam al-Quran yang diturunkan kepada Muhammad. Apakah ini bukan bikinan Muhammad?”
*Diriwayatkan oleh al-Wahidi dari Abdul Ghani bin Said at-Tsaqafi, dari Musa bin Abdurrahman dari Ibnu Juraij dari Atha yang bersumber dari Ibnu Abbas.
Abdul Ghani sangat dha`if.

Dalam riwayat lain dikemukakan, bahwa ketika Allah menerangkan laba-laba dan lalat dalam surat al-Haj 73 (S. 22 : 73) dan al-Ankabut 41 (S. 29 : 41), kaum musyrikin berkata : “Apa gunanya laba-laba dan lalat diterangkan dalam al-Quran?”. Maka Allah turunkan ayat tersebut diatas (S. 2 : 26).
*Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam tafsirnya, dari Ma`mar yang bersumber dari Qatadah.

Dalam riwayat lain dikemukakan, bahwa ayat tersebut diatas (S. 2 : 26) diturunkan sehubungan dengan surat al-Haj 73 (S. 22 : 73) dan al- Ankabut 41 (S. 29 :41), dengan reaksi kaum musyrikin yang berkata: :Contoh macam apakah ini yang tidak patut dibuat perumpamaan?”
*Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Hasan.

Keterangan :
Menurut as-Suyuthi : “Pendapat yang pertama (Ibnu Jarir) lebih shahih isnadnya dan lebih munasabah dengan permulaan surat. Sedangkan yang menerangkan kaum musyrikin, tidak sesuai dengan keadaan ayat Madaniyyah (yang diturunkan di Madinah)”.
Adapun yang diriwayatkan oleh al-Wahidi (sebagaimana telah kami kemukakan diatas) yang bersumber dari Qatadah dan Hasan, dengan tidak pakai isnad, munasabah apabila menggunakan kata : “Berkatalah kaum yahudi”.

اَتَاۡمُرُوۡنَ النَّاسَ بِالۡبِرِّ وَتَنۡسَوۡنَ اَنۡفُسَكُمۡ وَاَنۡتُمۡ تَتۡلُوۡنَ الۡكِتٰبَ‌ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ‏﴿۴۴

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedangkan kamu melupan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca al-kitab (Taurat), tiadakah kamu berpikir? (S. 2:44)

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat tersebut diatas (S. 2 : 44) tentang kaum yahudi Madinah yang pada waktu itu berkata kepada mantunya, kaum kerabatnya dan saudara sesusunya yang telah masuk Agama Islam : “Tetaplah kamu pada Agama yang kamu anut (Islam) dan apa yang diperintahkan benar”. Ia menyuruh orang lain berbuat baik, tapi dirinya sendiri tidak mengerjakannya.

Ayat ini (S. 2 : 44) sebagai peringatan kepada orang yang melakukan perbuatan seperti itu.
*Diriwayatkan oleh al-Wahidi dan at-Thsa`labi dari al-Kalbi, dari Abi Shaleh yang bersumber dari Ibnu Abbas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *